Perikanan Budidaya Siap Menerapkan Inovasi Teknologi di Era Industri 4.0

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus  mendorong perikanan budidaya terutama subsektor akuakultur semakin bisa bersaing secara global khususnya di era Revolusi Industri ke-4.  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menjelaskan, saat ini kinerja perikanan budidaya juga terus tumbuh positif.   

Data Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menunjukkan, produksi perikanan budidaya selama 5 tahun terakhir (2013-2017) tumbuh rata-rata sebesar 4,97 persen per tahun. Tahun 2017 produksi perikanan nasional tercatat 16.114.991 ton, atau naik 0,74 persen dari tahun 2016 yang mencapai 16.002.319 ton.

Berdasarkan data (BPS) memperlihatkan tren perkembangan NTPi hingga Oktober tahun 2018 tumbuh rata-rata sebesar 0,29 persen per bulan. Tercatat periode Oktober 2018 nilai NTPi sebesar 101,89 atau naik 2,38 persen dibanding periode yang sama tahun 2017 yang mencapai 99,52.

Begitu halnya dengan NTUPi, BPS juga mencatat selama periode yang sama sepanjang 2018 tumbuh positif, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 0,29 persen. Bulan Oktober 2018, nilai NTUPi tercatat sebesar 114,31 atau naik 3,68 persen dibanding tahun 2017 yang mencapai 110,25.

Bisnis akuakultur saat ini telah mengalami transformasi dari semula high risk (risiko tinggi) menjadi calculated risk (risikonya terukur). Hal itu mampu dicapai berkat penerapan teknologi.

Slamet menjelaskan era industrialisasi kini berbasis pada modernisasi teknologi informasi yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi internet. Mesin sudah terintegrasi dengan jaringan internet atau internet of things.  Industri 4.0 tentunya menjadi ajang baru sekaligus tantangan bagi subsektor akuakultur. Yaitu, bagaimana menciptakan sistem akuakultur yang efisien berbasis teknologi digital.

Dampak posisif kebijakan KKP khususnya dengan program Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI), bantuan benih, bioflok dan minapadi sehingga usaha menjadi lebih efisien dan produktif.  Sehingga menaikkan pendapatan pembudidaya. 

Namun diakui, menuju industri 4.0 ada tantangan, antara lain: tantangan degradasi ekosistem, penurunan kualitas air, wabah penyakit ikan, hingga penurunan daya dukung lingkungan. Juga, dari sisi daya saing maupun masih tingginya pakan ikan. 

Meski begitu, peluang pun tetap besar, dimana 45{fba98901c8692dccf43ac1a66f227a6515a261fb48ff7e645b61ec78893e9732} spesies ikan dunia ada di Indonesia. Kemudian, dari total potensi kelautan 17,9 Juta Ha, baru termanfaatkan 1,3 Juta Ha (7,41{fba98901c8692dccf43ac1a66f227a6515a261fb48ff7e645b61ec78893e9732}). Selanjutnya, dari sisi konsumsi ikan terus meningkat.  KKP, dalam mewujudkan Industri 4.0, akan melakuka berbagai langkah antara lain dari sisi efisiensi SDA, memperkuat nilai tambah, juga peningkatan produktifitas. 

KKP menyiapkan sejumlah strategi menuju industri 4.0. Pertama, Penciptaan efesiensi dan nilai tambah. Pembangunan mata rantai system produksi berbasis teknologi informasi guna menjamin interkoneksi mata rantai bisnis dari hulu hingga hilir secara efisien, memicu terwujudnya distribusi nilai tambah yang berkadilan, yang sebelumnya justru nilai tambah banyak dirasakan oleh para pelaku di sektor hilir.

Kedua, terciptanya system logistik yang efisien. Ketersediaan database dan system informasi terkait input produksi seperti pakan dan benih menjadi penting, memudahkan pelaku usaha dalam mendapatkan akses informasi secara cepat dan efisien, karena adanya perbaikan tata kelola supply and demand.

Ketiga, Efesiensi proses produksi akuakultur. Penerapan teknologi informasi berbasis digitalisasi dan internet of things harus terus diinisiasi dalam menciptakan proses produksi yang efisien, cepat dan terukur. Misalkan terkait manajemen pakan, system monitoring kualitas air dan lingkungan, early warning sytem dan lainnya. 

Keempat, Perbaikan sistem database bidang akuakultur. KKP telah menerbitkan kartu KUSUKA yang penerbitannya menggunakan system aplikasi online dan telah diintegrasikan dengan aplikasi satu data kelautan dan perikanan. Aplikasi ketelusuran system jaminan mutu dan keamanan pangan (CPIB, CBIB, CPPIB) dan aplikasi satu kode digitalisasi pelaku industry oleh BPS yang memungkinkan untuk dapat diakses oleh sektor terkait.

Agar semakin maksimal, kualitas SDM dan kelembagaan pembudidaya ikan ditingkatkan.

Link & Match antara kurikulum pendidikan & Industri. Peningkatan keterampilan penggunaan teknologi informasi (Internet). Dari sisi regulasi, juga disimplifikasi, baik dari persyaratan, maupun waktu. 

Juga memperkuat basis data untuk memudahkan perlindungan dan pemberdayaan pelaku usaha perikanan.  Memperbaiki, pelayanan dan pembinaan pelaku usaha perikanan. Dan menyelaraskan dan pengintegrasian sistem dengan pemerintah daerah.

Ke depan, rantai pasok yang panjang, akan dibuat simpel sehingga produk perikanan cepat diterima konsumen. Sehingga, dari sisi harga, akan lebih murah.  Dengan teknologi digital, pembudidaya ikan dapat memasarkan produknya langsung ke konsumen tanpa melewati rantai pasok yang panjang sehinggga biaya transaksi menjadi lebih murah.  Akumulasi margin yang sebelumnya terjadi dapat ditekan dan dinikmati oleh pembudidaya ikan dalam bentuk harga jual yang lebih baik, sementara konsumen mendapat harga yang lebih murah

Subsektor akuakultur siap menyongsong era industri 4.0 dengan fokus utama pada tujuan pencapaian efesiensi, produktivitas dan nilai tambah. Era ini harus ditangkap sebagai peluang, sehingga nilai ekonomi sumberdaya akuakultur ini mampu dimanfaatkan secara optimal. 

Upaya mentransformasi bisnis akuakultur dalam industry 4.0 akan memberikan solusi terbaik khususnya dalam membangun sistem produksi yang lebih efisien dan terukur mulai dari aspek teknis produksi, penguatan SDM dan aspek manajemen bisnisnya. Penerapan teknologi digitalisasi dalam proses produksi harus dalam kerangka menjamin sustainable aquaculture.

Ketersediaan database dan sistem informasi terkait input produksi seperti pakan dan benih juga menjadi penting. Melalui penerapan sistem informasi logistik di bidang akuakultur, maka akan lebih mudah bagi pelaku usaha dalam mendapatkan akses informasi secara cepat dan efisien karena adanya perbaikan tata kelola supply and demand. Sistem informasi logistik juga penting guna mewujudkan konektivitas input produksi tersebut dengan para pelaku akuakultur sebagai pengguna. 

Saat ini KKP tengah melakukan perbaikan tata kelola database khususnya pelaku usaha akuakualtur. KKP telah menerbitkan kartu KUSUKA yang penerbitannya menggunakan sistem aplikasi online dan telah diintegrasikan dengan aplikasi satu data kelautan dan perikanan, aplikasi ketelusuran sistem jaminan mutu dan keamanan pangan (CPIB, CBIB, CPPIB) dan aplikasi satu kode digitalisasi pelaku industri oleh BPS yang memungkinkan untuk dapat diakses oleh sektor terkait.

Sumber : Commercial Content
Editor: indah sulistyorini

Sumber : Commercial Content
Editor: indah sulistyorini