Trump Terima Undangan Erdogan untuk Kunjungi Turki

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima sebuah undangan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengunjungi Turki. Kunjungan dijadwalkan tahun depan, namun tanggal pastinya belum ditentukan.

Berbicara kepada awak media usai pertemuan kabinet, Senin 24 Desember 2018, juru bicara pemerintah Turki Ibrahim Kalin mengonfirmasi bahwa Trump berniat datang tahun depan. Gedung Putih juga mengonfirmasi hal serupa.

“Meski belum ada hal pasti yang sudah ditentukan, presiden membuka diri untuk menggelar pertemuan,” ujar Gedung Putih, seperti dilansir dari kantor berita Al Jazeera. Trump telah menjamu Erdogan di Gedung Putih pada Mei tahun lalu.

Kalin menyebut Erdogan menyampaikan undangannya saat berbicara dengan Trump via telepon. Percakapan saat itu juga meliputi rencana penarikan pasukan AS dari Suriah dan Afghanistan.

Masih dari keterangan Kalin, disebutkan bahwa sebuah delegasi militer AS akan mengunjungi Turki pekan ini untuk lebih lanjut membicarakan isu Suriah. “Mereka akan mendiskusikan cara mengkoordinasikan (penarikan pasukan),” sebut Kalin.

Minggu 23 Desember, Trump menuliskan di Twitter bahwa dirinya telah berdiskusi “panjang dan produktif” dengan Erdogan. Ia mengonfirmasi percakapan itu meliputi rencana penarikan pasukan AS.

“Kami mendiskusikan ISIS, keterlibatan di Suriah dan penarikan pasukan AS dari negara tersebut,” ungkap Trump, merujuk pada kelompok militan Islamic State.

Senada dengan Trump, Erdogan juga menuliskan di Twitter bahwa dirinya telah menjalani diskusi produktif dengan Trump. “Kami sepakat memperkuat koordinasi dalam berbagai isu, termasuk perdagangan dan perkembangan di Suriah,” kata Erdogan.

Tiga Orang Tewas dalam Ledakan di Kemenlu Libya

Sedikitnya tiga orang tewas dalam sebuah ledakan yang diikuti baku tembak di Kementerian Luar Negeri Libya di Tripoli, Selasa 25 Desember 2018. Menurut laporan televisi lokal, serangan dilancarkan beberapa “teroris.”

Seperti dikutip dari kantor berita AFP, sejumlah saksi mata melihat asap akibat ledakan di sekitar Kemenlu Libya. Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan.

Sejumlah pejabat Libya yang enggan disebutkan namanya mengatakan ledakan berasal dari bom bunuh diri. Petugas keamanan disebut berhasil melumpuhkan pengebom kedua yang hendak meledakkan diri.

Terpecah akibat perebutan kekuasaan di internal pemerintah, Libya telah menjadi lahan subur bagi militan dan ekstremis usai tergulingnya Moamer Gaddafi pada 2011. Kelompok militan Islamic State (ISIS) memanfaatkan kekacauan di Libya untuk menguasai kota Sirte pada 2015.

Pasukan loyalis pemerintahan GNA yang didukung PBB merebut kembali kota tersebut pada Desember 2016. Pertempuran merebut Sirte berlangsung lebih kurang delapan bulan.

Setelah Sirte direbut, ISIS dan grup ekstremis lainnya mundur ke wilayah gurun untuk mengumpulkan kekuataan. September lalu, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bunuh diri di Perusahaan Minyak Nasional Libya di Tripoli, yang menewaskan dua orang dan membuat 10 lainnya terluka.

Empat bulan sebelumnya, ISIS mengklaim serangan ke kantor Komisi Pemilihan Umum Libya yang menewaskan 14 orang.

Sanksi AS Berat, Namun Tidak Membuat Iran Menyerah

Amerika Serikat telah mengumumkan penjatuhan kembali sanksi ekonomi kepada Iran pada awal Mei dan juga akan menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Presiden Iran Hassan Rouhani mengakui dijatuhkannya kembali sanksi berdampak buruk bagi masyarakat Iran.

“AS tidak akan pernah mencapai tujuannya terlepas dari sanksi yang berdampak buruk bagi standar kehidupan warga Iran,” ucap Rouhani di situs resmi pemerintah Iran, seperti dilansir dari kantor berita Sputnik, Selasa 25 Desember 2018.

“Tujuan utama dari konspirasi dan sanksi AS adalah tekanan, agar Republik Islam Iran berlutut dan menyerah,” lanjut dia. Rouhani yakin pemerintah Iran yang didukung parlemen, tokoh agama dan masyarakat akan bertahan menghadapi berbagai kesulitan.

Menurut Rouhani, segala bentuk sanksi dari AS terhadap Iran telah “melanggar seluruh perjanjian internasional.” Salah satunya adalah perjanjian nuklir 2015 bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Di bawah JCPOA, Iran membatasi program nuklir mereka dan sebagai gantinya, Washington meringankan sanksi terhadap Teheran. Namun Presiden AS Donald Trump menilai JCPOA tidak adil dan memutuskan menarik diri IDN Poker.

“Mereka (AS) ingin warga Iran kehilangan harapan untuk masa depan. Mereka juga ingin meyakinkan masyarakat Iran bahwa pemerintahan kami tidak dapat mengontrol situasi dalam negeri,” sebut Rouhani.

Pekan lalu, Rouhani mengatakan “hari-hari kediktatoran AS telah berakhir, dan Washington tidak akan bisa lagi mendikte hubungan antar negara di kawasan.”

Sementara Pemimpin Agung Iran Ayatollah Khamenei belum lama ini “memerintahkan” Bank Sentral Iran untuk mendorong nilai mata uang rial.

“Bank Sentral Iran akan melakukan yang terbaik untuk memperkuat rial dan mendukung semua bank di negeri ini,” kata Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati.

Presiden Nigeria Bantah Rumor Kematian Dirinya

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari membantah rumor dirinya meninggal dunia dan digantikan seseorang yang mirip asal Sudan. RUmor ini muncul di tengah kondisi kesehatan Buhari yang kurang stabil

“”Ini saya yang sesungguhnya. Saya akan merayakan ulang tahun ke-76 dan saya masih kuat,” ucap Buhari asat bertemu para diaspora Nigeria di Polandia. Buhari datang ke kota Katowice untuk menghadiri konferensi iklim COP24.

Dia menjawab pertanyaan mengenai rumor tersebut — yang tersebar di Twitter, Facebook dan YouTube — bahwa pemimpin Nigeria adalah seorang tokoh palsu bernama “Jubril.”

“Banyak orang berharap saya meninggal di tengah buruknya kondisi kesehatan saya. Beberapa dari mereka menghubungi Wakil Presiden untuk dijadikan wakil, dengan berasumsi saya sudah meninggal dunia,” tutur Buhari, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Senin 3 Desember 2018.

Menurut Buhari, siapapun yang menyebar rumor ini adalah orang “bodoh” dan “tak beragama.”

Buhari, yang ingin mengikuti kembali pemilihan umum tahun depan, menghabiskan banyak waktu sepanjang 2017 di London untuk perawatan sebuah penyakit serius. Buhari tidak pernah mengungkapkan penyakit apa yang dideritanya daftar poker.

Kurangnya informasi mengenai penyakit tersebut memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Klaim mengenai identitas palsu Buhari muncul satu bulan usai presiden Nigeria itu pulang dari London belum lama ini.